MENARIK… SUNGGUH MENARIK
Tulisan ini saya tulis sekitar tahun 2003…
Tulisan ini
merupakan sebuah paradoks yang sama sekali tak menarik dibaca oleh
mahasiswa eksact, bukan karena penulis adalah seorang mahasiswa yang
baru semester tiga, namun lebih pada kerangka pemikiran yang
membingungkan mereka sekaligus sama sekali tidak memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan klasik tentang sebuah fenomena klaim
paradigma eksacta yang telah mengakar dan mengikat perilaku perjalanan
nalar kolot, fanatik, beku, mandul, egois, pragmatis, terlebih pada
ketertutupan kecenderungan mereka pada hal-hal penting yang substansial
dan hanya melulu tertarik pada wilayah perlu dan tidak perlu. Terlalu
bodoh mereka untuk menganggap bahwa belajar ilmu lain menjadi tidak
penting, dengan selalu menghujat orang yang banyak bicara adalah tidak
baik, cukup menjadi salah satu bukti sebuah apologi terkutuk untuk
melapisi ketidakmampuan mereka dalam menuangkan ide atau bahkan untuk
menutup-nutupi bahwa sebenarnya mereka tidak mempunyai ide sama sekali.
Jika memang benar mereka kaya akan ide dan gagasan bisakah mereka
menuangkannya dalam bentuk tulisan atau hanya sekedar menerjemahkan
simbol yang sebenarnya sama sekali tidak ada artinya bagi mereka,
mampukah mereka berkreatifitas dengan gagasan mereka sendiri dan tidak
hanya sebatas sombong, angkuh, serta sok jagoan dengan hanya
membanggakan label eksactanya. Secara jujur saya katakan, Sangat naif
bagi siapa saja yang bertingkah seperti anak kecil dengan mencoba
berlagak dewasa bermain-main cukup dengan simbol tanpa sedikitpun
berusaha bepikir kritis, berlogika, sampai pada kematian jatidiri
sebenarnya sebagai scientis. Tak ada lagi yang diandalkan selain dengan
menganggap semua yang berawal dari dirinya kecuali eksacta sebagai
agama, bahkan mempertuhankan kebenaran eksacta sebagai suatu yang
sakral. Tak salah lagi ketika Keindahan menurut mereka adalah keburukan
yang dibuat-buat, seperti pada saat mengatakan manis setelah mulut
mereka kemasukan garam, Demikian juga budaya lokal yang dianut
habis-habisan seolah memposisikan siapapun yang berani mengatakan
"tidak" adalah salah, siapa yang telah mendorong mereka untuk
memberikan jawaban baku
atau lebih tepatnya klaim atas berbagai pertanyaan logis dan pernyataan
konkret dibawah kemampuan akal sehat (common sense)nya. Dengan cara apa
mereka berpikir hingga selalu takut dengan bayang-bayang hantu yang
namanya "sosial". Cangkang
penutup nalar mereka terlalu keras untuk
mendengarkan suara kebenaran yang palsu bagi mereka, jiwa mereka
terlalu lemah untuk menahan desakan-desakan aliran filosofis
transendental, cukup bagi mereka untuk berargumen "poko’e" terlepas
dari selain mekanistik
deterministik
kausal dengan bergaya sebagai sosok batu cadas yang keras, padahal
mereka tak dihargai, tak berguna, tak berharga, sama sekali tak
bernilai.
Manusia macam apa yang berwawasan kerja dengan karakter
sempit laksana mesin robot yang memuji-muji formalitas dan performance
belaka. Hati mereka telah dikeringkan oleh ilusi cinta kasih terhadap
fatamorgana yang secara tidak sadar mereka tertipu indahnya hayalan,
buaian, mimpi, dan selebihnya hanya utopis interest. Mereka bukan
thinker, bukan pula
scientis namun mereka adalah sosok dreammer yang
berlogika dangkal dan sekali lagi mereka terlalu tolol untuk disebut
sebagai seorang manusia. dengan mencoba sekuat tenaga untuk jujur
mengakui kefatalan atas kesalahan dasar mempergunakan kemampuan mereka
sebagai buldozer untuk lebih berusaha membuang-buang kesempatan dalam
beraktifitas yang sesekali mereka tak pernah merasa bosan dengan
hal-hal monoton yang tidak pernah mengajak kearah pendewasaan diri.
Banyak masalah yang tidak pernah mereka permasalahkan, dengan disertai
banyak pertanyaan yang tidak mereka pedulikan
jawabannya
telah dengan jelas menunjukkan kemunafikan terdalam di hatinya untuk
kemudian menjadikannya tidak tertarik dalam memperhatikan suara hati
yang terbesit,
terlintas lalu hilang. mempertahankan idealisme, bagi
mereka adalah sama halnya dengan menahan nafsu yang secara sadis
memporak-porandakan rasio, memperkosa
nurani bahkan dengan kejam
menyiksa lalu membunuh banyak potensi yang terpendam jauh dalam sebuah
kesatuan diri. Lebih sadis lagi mereka membantai keinginan untuk
meragukan, mencurigai, serta terbebas dari keyakinan yang
membelenggunya, mempertanyakan atas kegelisahan yang selalu ditepis dan
ditekan oleh yang namanya kuasa. mereka tak sadar telah dikuasai,
diperalat, dijadikan kambing qurban atau lebih tepatnya kelinci
percobaan, yang secara politis sarat akan kepentingan, kepentingan atas
sistem, dengan penguasaan pemikiran, hegemoni kultural dengan isu-isu
bermoral dan normatif. Seolah-olah kuliah adalah
segala-galanya,
IP adalah harta yang berharga yang dijual mahal setara dengan harga
diri, sampai pada usaha mati-matian untuk meraih cita-cita sejatinya.
Cita-cita
untuk bekerja sebagai pengajar, dengan jalan akta empat yang telah
menggeser hakekat guru sebenarnya, guru yang dulunya terstigma sebagai
pahlawan tanpa tanda jasa, kini mereka merubahnya menjadi cuek dengan
karya dan miskin kreatifitas, profesi guru menjadi seburuk-buruk
pekerjaan, penipu, ahli berjudi, mencari uang, sampai pada
penggantungan nasib demi materialisasi ilmu pengetahuan. Demikian juga
pegawai negeri, siapapun yang bangga dengan cita-cita menjadi PNS
adalah serendah-rendahnya intelektual, pegawai jauh dari kompetensi,
tanpa prestasi mereka mendapatkan gaji tiap bulan, sama
sekali
tak ada keistimewaan, tak berguna bagi masyarakat, bahkan banyak yang
menjadi sampah dan momok dalam kehidupan. Sedemikian patutkah mereka,
makhluk eksacta menyandang gelar keistimewaan yang dengan sedikit
sekali apa yang dapat mereka tawarkan
pada sebuah perubahan,
pencerahan, bahkan malah menggerogoti moral dengan semakin menjauhkan
kehidupan dari keadaan baik. Mereka dengan cacat nalar berpikir untuk
menghitung keuntungan pribadi an sich tanpa memperhitungkan harga diri.
Pada saat mereka berpikir, disitulah terjadi pembatasan-pembatasan kemampuan yang sebenarnya..