Mengatasi virus Your privacy is in danger with red screen

June 29th, 2008 by riadibambang

Sebenernya ga sengaja main klik download software dari internet, eh ternyata kemasukan malware yang lumayan nyebelin.

Di background saya terdapat tulisan “your privacy is in danger”
dengan background warna merah. Jika diklik akan memaksa kita untuk
menginstall malware dari web yang sengaja membuat aplikasi itu.

sebenernya virus itu terdapat di c:windows/privacy_danger/index.htm
namun jika didelete dia akan balik lagi. akhirnya dengan susah payah q
cari di regedit, di msconfig dan ku telusuri dengan Ctrl+alt+delete
yang baru saja saya enable, karena virus itu memang mendisable nya.

avast anti virus telah jalan, namun ga ndetek apa-apa, malahan virus
itu secara otomatis membuka Internet explorer dan mengajak untuk
mendownload virus tersebut, screen web tersebut mirip dengan proteksion
dari windows Xp namun jika di klik, petaka akan datang, virus akan
aktif dan trojan berkeliaran di system. bukan cuma itu, komputer akan
jadi sangat lambat, pokoknya menjengkelkan banget.

Tulisan nya ada di Bambangriadi.com

AKU

June 14th, 2008 by riadibambang

AKU

 

 Dalam hidup ini
ketika kucoba renungkan apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi. Banyak hal
yang sebenarnya membuatku bingung dan ragu, kadang aku butuh dan dibutuhkan,
mencari dan dicari, menolong dan ditolong, yang kesemuanya itu amatlah tidak
berharga dibandingkan dengan kondisiku sekarang ini. Setelah masa depanku
hancur ditambah beban berat dipundakku, hutang-hutang yang melilitku, dan
banyak lagi keresahan yang kurasakan semuanya itu hanyalah sekedar untuk
mengutuk diriku sendiri saja dan bukan untuk menghibur apalagi menolong dan
memberikan harapan bagiku. Sangatlah naif ketika sekarang diriku mengharap
ketenangan sementara orang sekeliling menatapku dengan tatapan tuntutan, bicara
denganku dengan suara cemoohan, hingga aku berani taruhan suatu saat dunia akan
terbalik sehingga keberuntungan ada di depan mataku. Akupun sadar keluargaku
akan sangat kecewa ketika melihat kenyataan yang menimpaku, anak yang
dibanggakan, adik yang berpotensi, dan saudara yang paling diharapkan, ternyata
tak lebih dari sekedar benalu yang menjadi beban orang yang selama ini
memperhatikanku. Tak patutlah kiranya kutulis untaian kata yang sangat tidak
enak dibaca apalagi direnungkan yang hanya mengindikasikan sebuah penyesalan
yang mendalam tentang suatu abstraksi dilema kehidupanku yang an sich.

 

Tak ada lagi suatu harapan lain kecuali “kebebasan” yang
selama ini tak pernah kumiliki, yaa…. Kebebasan yang aku sudah tidak memikirkan
orang lain, tidak mau tahu kepentingan, dan tidak kuanggap diriku hanyalah jadi
korban peradaban zaman ataupun seonggok paham idealisme serta kebebasan yang
aku sendiri kuasa tuk pertahankan hidupku atas kesepakatan naluri dan nuraniku
sendiri. Tak ada ikatan apapun dengan dunia selain aku, tak ada seorangpun.
Hanya apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan yang akan kujalani dan
kuperjuangkan, kubiarkan suara yang mencoba membuatku tertarik kesana,
kubiarkan alam mempertemukanku sendiri dengan Tuhan dan bukan orang lain.
Kata-kata ini sebenarnya tak patut dimaterialkan oleh orang yang mengatasnamakan
pejuang, tapi hanya teruntuk orang yang berani dengan lantang membahasakan
kejujuran. Seperti halnya kaum yang diklaim egois, aku akan berani membuktikan
bahwa kaum egoispun sebenarnya punya pertimbangan naluri yang sebenarnya juga
perlu diklasifikasikan dan didefinisikan menjadi egois murni amoral yang selalu
membawa-bawa kepentingan, dan egois rasionalis yang tidak merugikan orang lain,
meski kedua-duanya tidak baik untuk dikembangkan.

 

Kadangkala kedengkian yang mewarnai hidup ini diubah dalam
bahasa cinta, kebohongan dibalut dengan kejujuran, nafsu yang garang dilapisi
moral, dan kekejian sudah layak dikatakan akhlak. Akupun tidak lagi merasa
hidup ini seindah masa kanakkanak dimana ibu guru dengan kasih sayang selalu
memperhatikan perkembangan dan pendidikanku, tapi sekarang orang yang kuanggap
sebagai guru mendidikku hanya untuk lembaran-lembaran emas, kuliah dijadikan
alat transaksi, belajar mengajar bukan lagi untuk pintar tapi hanya demi
kepingan-kepingan harta, tak sanggup kiranya kubayangkan kedua orangtuaku
banting tulang mandi keringat hanya untuk mencukupi kebutuhanku, tiap malam
bersimbah air mata demi mendoakanku. Persetan dengan orang yang selama ini
membual didepanku, meski dia dianggap pahlawan tanpa tanda jasa ataupun penuh pengorbanan.
Ratapan dan tangisanku seolah tiada
artinya lagi, hatiku kering kerontang merasakan panasnya sengatan emosi
kealpaan.

 

Apapun telah
kuanggap fana, termasuk identitasku tanpa terkecuali. Kebenaran menjadi tidak
lagi menarik bahkan malah semakin menakutiku, ditambah belenggu anti kemapanan
yang dimulai pasca wacana tentang kritisisme dan teori kebenaran, juga terkait
dengan konsepsi logis august comte yang menyatakan ??Sebagai anak kita menjadi
seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai
mansusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam. Sedikit banyak diriku telah
terpengaruh diskursus epistemologi kiri, tapi memang sejak awal obsesiku selalu
ingin mencari sesuatu yang beda meski lingkungan tidak pernah mendukungku.
Bukan hal yang salah ketika dihadapkan pada persepsi, pada kenyataan yang tidak
semua orang bisa melihatnya, ilusi adalah kenyataan, intuisi adalah sumber
inspirasi dan awal mula sebuah ide, akan tetapi apakah “harus” ketika hari ini
kucoba terlepas dari apapun yang aku sendiri takut untuk berpikir kesana?,
rasanya bukan menjadi ketakutan kalupun itu hanya sekedar bahasa atau logika.
Tapi bukan hal itu yang sebenarnya membawaku pada “kegilaan”, tapi malah aku
menganggap bahwa sesuatu selain aku hanya ada jika ada dibenakku. Bukan hanya
manusia, hewan, perasaan, alam, atau bahkan Tuhan sering menjadi klaim bahwa
aku benar-benar ada dengan segenap eksistensiku, tapi aku ragu bahwa semuanya
ada bahkan termasuk logika berpikirku, dalam ketiadaan ini hanya ada bayangbayang
yang ada tanpa cahaya dan kegelapan, substansi dari esensi yang maya. Tidak
empiris seperti yang dikatakan anak kecil bahwa cabe itu pedas. Apakah karena
eksistensiku ada dalam bayang-bayang atau hanya bayangan, atau tidak tampak
dalam kegelapan dan terang, bukan itu, tapi aku setidak-tidaknya mempunyai alat
untuk membayangkan bayangan. Apakah kenyataannya dalam hidup ini tidak ada
hitam putih, baik buruk, hidup mati, kaya miskin, laki-laki perempuan, dan
hukum kausalitas lain ataupun diantaranya. Juga apakah ketiadaan ini yang
disebut keadaan, tak ada yang bisa diistilahkan, dibahasakan, diverbalkan, atau
dimaterialkan bagaimanapun, karena hakekatnya ada pada substansi ketiadaan,
esensi bayangan, yang tidak bisa dianggap ada pada dunia bayangan, tapi memang
ketiadaaan itulah yang menjadi di-adakan bukan realitas yang ada tapi hanya
ilusi dari kehampaan.

 

Sebagai sesuatu
yang dianggap manusia belum sempat kiranya untuk memaknai manusia seutuhnya
akibat keadaan yang memang tidak pernah mengajak pada pemaknaan yang bersifat
artifisial, manusia dengan segala yang bergejolak dalam pikirannya dan seluruh
perilaku tingkah laku yang berjuta ragamnya seolah hanya dibatasi ruang dan
waktu semata bukan karena dianggap zat dan geraknya saja namun seluruh
substansi terkonstruk ke dalam kerangka bingkai kedangkalan intuisi. Sebuah
realitas yang terperosok kedalam lubang kecil yang tidak begitu dalam berpikir
dan merenung berusaha mencari pijakan untuk keluar melihat lubang tadi, melihat
matahari sudah setinggi berapa derajat, menghirup oksigen yang sudah terasa
pengap, dan melangkah hati-hati berjalan menyusuri jalan yang tidak ada
sedikitpun arti dari bulatnya bumi kecuali hanya padang rumput yang datar
beserta sedikit angin panas menerpa rantingranting pohon yang sudah tidak ada
daunnya. Sekedar sandiwara atau kisah yang sempat ada dalam ringkasan kehidupan
tidak lebih hanyalah fiksi dari fatamorgana dalam panasnya matahari menyengat
kulit memaksa keringat keluar, menipu mata hati untuk lebih cepat mengambil
konklusi bahwa hidup dalam kehidupan hanya dibatasi ruang dan waktu serta
terbebas dari pengetahuan tentang hidup sesudah mati, balasan sorga neraka,
sedih dan gembira, realitas yang lain diluar panca indera, atau melihat tanpa
kacamata hegemonik sebuah diri atau komunal.

 

Definisi dari
harga diri, kehormatan, atau hal-hal yang metafisis lainnya bukan sekedar
tekstual atau kontekstual, tapi lebih dari sekedar itu, anggapan, asumsi,
premis, proposisi, dan semua yang terkait dengan bahasa, bahasa verbal, non
verbal, fiksi, gerak, bahkan bahasa atau lambang yang artifisial pun telah
berusaha membatasi atau bahkan menghilangkan makna sesungguhnya dan sebenarnya
dan alangkah tragisnya banyak yang terjerumus kedalam lorong kebutaan yang
semakin dalam tanpa batas, sehingga sulit keluar dari jebakan mekanisme dan
persepsi. Berbagai metode, instrumen, rumus dan berjuta cara telah menjadi
tabir realitas sesungguhnya, tabir yang berlapis-lapis, cermin yang memantulkan
bayangan, kaca yang transparan, kaca hitam putih, warna-warni pelangi yang
semuanya dianggap sepenuhnya memproyeksikan kenyataan padahal dibalik tabir itu
bukan hanya misteri yang seolah belum terkuak, tapi di atas misteri itu
terdapat kenyataan yang sebenarnya ada dalam diri manusia, ada dalam bayangan,
ber-ada dimana-mana, sampai adanya dianggap sebagai ketiadaan karena bebas dari
ruang dan waktu, terbebas dari ukuran jauh dan dekat, terlepas dari hidup dan
mati, tak berwarna, tak berasa, tampak dalam ketiadaan, yang tak berbentuk dan
tak terlukis dalam angan, ilusi bayangan, tapi kenyataan itu ada dalam
keadaannya, tampak pada mata telanjang, terasa pada kulit, hidup tanpa
kehidupan, serta sama sekali tidak berada di dunia antara.

 

Semua yang
terkait dengan hal yang transendental tentunya sangat sulit untuk dipahami walaupun
hanya sekedar abstraksi dalam pisau nalar. Demikian juga, ketergantungan pada
perasaan yang dipaksakan tidak lebih sekedar tipu muslihat yang meracuni,
menikam, dan mengkoyak-koyak akal budi, terilhaminya intuisi walau hanya
sekilas sesekali bukanlah insidental belaka, air yang seolah mendidih dalam 100
derajat tidak dapat diukur hanya dengan perkiraan an sich, keterbatasan indera,
akal, ataupun alat yang berdiri sendiri tidak lebih dari omong kosong belaka.
Selayaknyalah aku berpaling pada hal-hal yang menguasai paradigma dengan segala
bentuk konsekuensi dari semua ini, bukanlah hal yang penting saat ini bagiku
kecuali mencoba merenungkan segala keterlibatanku dan ketertarikanku pada
afektivitas rasionalisme kemudian merekontruksi ulang atau bahkan
mendekontruksi semua yang berperilaku sebagai kuasa atas diriku. Pada
hakekatnya aku menyukai segala yang ada dalam kehidupanku kecuali cinta, kenapa
aku harus membenci cinta? Sebuah pertanyaan yang sampai hari ini belum
terjawab, belenggu romantisme telah sekian lama ku bongkar dan kuhancurkan,
cinta laksana pembunuh berdarah dingin, penipu yang ahli menghipnotis, dengan
hayalannya mampu meremukkan imajinasi. Jauhnya diriku dari cinta, membuat
kebahagiaan tersendiri bagi tatanan indera perasaku, lebih dari empat tahun aku
terjebak dalam kubangan hitam itu, kemampuan logika sederhanaku mampu
menyimpulkan bahwa manusia yang bercinta sangatlah terkutuk apalagi diungkapkan
sebagai sebuah nalar diskursif.

 

Kasih sayang,
rindu, kebersamaan, saling menghargai semuanya reduksi dari cinta yang mustahil
untuk direalisasikan. Satu hal yang baik menurutku adalah kesungguhan,
berangkat dari sebuah ide dan indera semua orang bisa merelasikan kehidupan
yang bermakna dan berarti bagi perjalanan hidup menyusuri ruang dan waktu, hal
ini tanpa dimulai dengan kesungguhan, maka akan menjadi fenomena yang besar
dalam dunia empiris sekarang ini. Terkadang tanpa kusadari mimpi buruk yang
sering kualami menjadi masalah besar dalam nalarku, entah datang darimana yang
jelas aku tak kuasa untuk menolak kehadirannya. Nalar yang telah terkontaminasi
dengan mimpi buruk atau hal-hal yang menyebabkan kegelisahan, menjadi sebuah
cacat nalar yang berimplikasi pada cacat perilaku dan tindakan serta sangat
berpengaruh dalam memberikan keputusan. Cacat nalar yang terdefinisi sebagai
kebodohan tertinggi, sakit yang paling parah, sehingga siapapun orang yang
berangkat dari ide-ide cacat nalar maka dia akan jauh dari pengetahuan, jauh
dari ilmu dan sangat dekat dengan kesesatan, tiada teori yang menjelaskan nalar
secara diskursif dan barang siapa yang mencoba mendefinisikan, maka dialah sang
pembohong besar yang dengan ambisinya mencoba membunuh kemandirian. Tiada
untungnya bagi siapapun manusia yang meneliti keabstrakan karena pada dasarnya
itu hanyalah sebatas perkiraan, sementara masih banyak hal yang harus menjadi
ataupun ada sebagai sebuah kevalidan (teorema) bahkan kebenaran (postulat dan
aksioma), kebenaran yang sesungguhnya tiada butuh bukti rasional, dia dapat
membuktikan dirinya sendiri dengan common sense subjeknya, sesungguhnya
perasaan dan intuisilah yang menjebak diri kita sebagai manusia ceroboh. Jika
ada orang gila yang telanjang dijalanan maka dia lebih baik daripada manusia
cap waras yang berkomentar tentang dia. Perasaan bukan alat yang baik untuk
orang yang mengharapkan pengetahuan, siapapun yang telah dengan rela melepaskan
segala rasa dalam segala aktifitas pikirannya niscaya dia benar-benar objektif,
tapi tak ada satupun dari manusia yang sanggup untuk melakukan itu karena pada dasarnya
semua orang takut untuk berani berpikir dengan hatinya. Aku yang berusaha
sampai hari ini untuk membahasakan isyarat hati dengan suatu pikiran kritis
yang bukan hanya sulit dipahami tapi seringkali menghilang dan muncul namun
hanya sekejab.

 

Orang yang diam
pasti dapat mendengarkan suara hatinya sedang bicara, dalam bergumam, berpikir,
dan mendengar. Aku sangat sepakat jika memang manusia saat ini hanyalah robot
dengan roh yang berkembang dalam dimensi yang berbeda, dan benar-benar
merupakan penampakan fisik yang sering menipu, bukan lebih pada tingkat
kejeniusannya dalam mengungkap kebenaran suara hati. Aku tahu apa yang tidak
semua orang tahu tentang aku, aku mengumpat, memaki, meludahi, dan membunuh
siapun orang yang kukehendaki dengan tak ada seorangpun yang tahu. Manusia
merupakan satu kesatuan utuh yang tereduksi menjadi roh dan jasad. Aku sebagai
seorang penganut filasafat diri eksentrik dengan segenap skeptisis, realistis,
idealis, menganggap apapun yang terkait dengan "hubungan" adalah
keniscayaan obyektif dari suatu gerakan. Tak ada sesuatupun yang diam semuanya
bergerak, seperti gunung bersama bumi bergerak mengelilingi matahari, proton
dan elektron dalam sebuah benda. Hal yang bergerak seperti itulah yang diyakini
manusia sebagai diam, diam dalam dimensi ruang dan waktu, sedalam dan seluas
pandangan orang-orang kritis yang memahaminya. Bergerak adalah hakekat, diam
adalah nisbi, gunung itu kecil dalam tatasurya tapi banyak yang bilang besar.
sebenarnya perasaanlah yang menisbikan hakekat realitas, imajinasi dan
intuisilah yang menggeser kejelasan makna menjadi abstrak dan dengan rasa
bahasa menjadi alat yang bodoh dan tidak berguna. Bahasa sebagai pecundang yang
luar biasa biadabnya, memperkosa realitas sebenarnya dengan pembatasan makna yang
secara kompulsif menggunakan kuasanya, bahasa adalah monster hegemonik yang
menyeramkan, ahli bahasa adalah penipu yang seolah berjasa namun memisahkan
makna dengan realita, menyembunyikan bahan dari produknya, dan menisacayakan
sesuatu yang tidak berharga. Bahasa hanyalah untuk anak kecil yang belajar
membaca dan menulis, tidak layak untuk mendefinisikan fakta. Orang yang kaya
bahasa akan jauh dari makna, sedangkan orang dewasa akan sedikit menghargai
makna daripada bahasa.

 

Terlanjur bahasa
menjadi bagian dari makna, dia akan hiperbolik dan semena-mena, Tak ada
pembelaan atau apologia terburuk kecuali ada pada ahli bahasa. Akulah manusia
yang paling muak dengan kesombongan para bahasawan, dalam hal ini Pemahamanku
tak akan bisa dipahami jika berada dalam dimensi pengetahuan berbeda, kecuali
dengan karakteristik kritis yang tidak sekedar falsifikatif tapi juga negasi
afirmatif. Seperti halnya kaum intelektual amatiran yang hanya ahli dalam
membongkar, mendekontruksi tanpa disertai teori besar yang mapan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Hal yang semacam itu juga dapat membodohkan bahkan
menyesatkan, bukankah sangat membahayakan sisi kemanusiaan manusia. sangat
disayangkan bahwa mereka dengan karakter elitisnya tidak mampu mengontrol
perkembangan teknologi mekanistik deterministik kapitalistik yang telah berubah
menjadi hantu yang bergentayangan di muka bumi ini.

 

* Ratapan hati,
dulu pas masih sumpek polllll

MENARIK… SUNGGUH MENARIK

June 14th, 2008 by riadibambang

Tulisan ini saya tulis sekitar tahun 2003…

Tulisan ini
merupakan sebuah paradoks yang sama sekali tak menarik dibaca oleh
mahasiswa eksact, bukan karena penulis adalah seorang mahasiswa yang
baru semester tiga, namun lebih pada kerangka pemikiran yang
membingungkan mereka sekaligus sama sekali tidak memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan klasik tentang sebuah fenomena klaim
paradigma eksacta yang telah mengakar dan mengikat perilaku perjalanan
nalar kolot, fanatik, beku, mandul, egois, pragmatis, terlebih pada
ketertutupan kecenderungan mereka pada hal-hal penting yang substansial
dan hanya melulu tertarik pada wilayah perlu dan tidak perlu. Terlalu
bodoh mereka untuk menganggap bahwa belajar ilmu lain menjadi tidak
penting, dengan selalu menghujat orang yang banyak bicara adalah tidak
baik, cukup menjadi salah satu bukti sebuah apologi terkutuk untuk
melapisi ketidakmampuan mereka dalam menuangkan ide atau bahkan untuk
menutup-nutupi bahwa sebenarnya mereka tidak mempunyai ide sama sekali.
Jika memang benar mereka kaya akan ide dan gagasan bisakah mereka
menuangkannya dalam bentuk tulisan atau hanya sekedar menerjemahkan
simbol yang sebenarnya sama sekali tidak ada artinya bagi mereka,
mampukah mereka berkreatifitas dengan gagasan mereka sendiri dan tidak
hanya sebatas sombong, angkuh, serta sok jagoan dengan hanya
membanggakan label eksactanya. Secara jujur saya katakan, Sangat naif
bagi siapa saja yang bertingkah seperti anak kecil dengan mencoba
berlagak dewasa bermain-main cukup dengan simbol tanpa sedikitpun
berusaha bepikir kritis, berlogika, sampai pada kematian jatidiri
sebenarnya sebagai scientis. Tak ada lagi yang diandalkan selain dengan
menganggap semua yang berawal dari dirinya kecuali eksacta sebagai
agama, bahkan mempertuhankan kebenaran eksacta sebagai suatu yang
sakral. Tak salah lagi ketika Keindahan menurut mereka adalah keburukan
yang dibuat-buat, seperti pada saat mengatakan manis setelah mulut
mereka kemasukan garam, Demikian juga budaya lokal yang dianut
habis-habisan seolah memposisikan siapapun yang berani mengatakan
"tidak" adalah salah, siapa yang telah mendorong mereka untuk
memberikan jawaban baku
atau lebih tepatnya klaim atas berbagai pertanyaan logis dan pernyataan
konkret dibawah kemampuan akal sehat (common sense)nya. Dengan cara apa
mereka berpikir hingga selalu takut dengan bayang-bayang hantu yang
namanya "sosial". Cangkang
penutup nalar mereka terlalu keras untuk
mendengarkan suara kebenaran yang palsu bagi mereka, jiwa mereka
terlalu lemah untuk menahan desakan-desakan aliran filosofis
transendental, cukup bagi mereka untuk berargumen "poko’e" terlepas
dari selain mekanistik
deterministik
kausal dengan bergaya sebagai sosok batu cadas yang keras, padahal
mereka tak dihargai, tak berguna, tak berharga, sama sekali tak
bernilai.
Manusia macam apa yang berwawasan kerja dengan karakter
sempit laksana mesin robot yang memuji-muji formalitas dan performance
belaka. Hati mereka telah dikeringkan oleh ilusi cinta kasih terhadap
fatamorgana yang secara tidak sadar mereka tertipu indahnya hayalan,
buaian, mimpi, dan selebihnya hanya utopis interest. Mereka bukan
thinker, bukan pula
scientis namun mereka adalah sosok dreammer yang
berlogika dangkal dan sekali lagi mereka terlalu tolol untuk disebut
sebagai seorang manusia. dengan mencoba sekuat tenaga untuk jujur
mengakui kefatalan atas kesalahan dasar mempergunakan kemampuan mereka
sebagai buldozer untuk lebih berusaha membuang-buang kesempatan dalam
beraktifitas yang sesekali mereka tak pernah merasa bosan dengan
hal-hal monoton yang tidak pernah mengajak kearah pendewasaan diri.
Banyak masalah yang tidak pernah mereka permasalahkan, dengan disertai
banyak pertanyaan yang tidak mereka pedulikan
jawabannya
telah dengan jelas menunjukkan kemunafikan terdalam di hatinya untuk
kemudian menjadikannya tidak tertarik dalam memperhatikan suara hati
yang terbesit,
terlintas lalu hilang. mempertahankan idealisme, bagi
mereka adalah sama halnya dengan menahan nafsu yang secara sadis
memporak-porandakan rasio, memperkosa
nurani bahkan dengan kejam
menyiksa lalu membunuh banyak potensi yang terpendam jauh dalam sebuah
kesatuan diri. Lebih sadis lagi mereka membantai keinginan untuk
meragukan, mencurigai, serta terbebas dari keyakinan yang
membelenggunya, mempertanyakan atas kegelisahan yang selalu ditepis dan
ditekan oleh yang namanya kuasa. mereka tak sadar telah dikuasai,
diperalat, dijadikan kambing qurban atau lebih tepatnya kelinci
percobaan, yang secara politis sarat akan kepentingan, kepentingan atas
sistem, dengan penguasaan pemikiran, hegemoni kultural dengan isu-isu
bermoral dan normatif. Seolah-olah kuliah adalah
segala-galanya,
IP adalah harta yang berharga yang dijual mahal setara dengan harga
diri, sampai pada usaha mati-matian untuk meraih cita-cita sejatinya.
Cita-cita
untuk bekerja sebagai pengajar, dengan jalan akta empat yang telah
menggeser hakekat guru sebenarnya, guru yang dulunya terstigma sebagai
pahlawan tanpa tanda jasa, kini mereka merubahnya menjadi cuek dengan
karya dan miskin kreatifitas, profesi guru menjadi seburuk-buruk
pekerjaan, penipu, ahli berjudi, mencari uang, sampai pada
penggantungan nasib demi materialisasi ilmu pengetahuan. Demikian juga
pegawai negeri, siapapun yang bangga dengan cita-cita menjadi PNS
adalah serendah-rendahnya intelektual, pegawai jauh dari kompetensi,
tanpa prestasi mereka mendapatkan gaji tiap bulan, sama
sekali
tak ada keistimewaan, tak berguna bagi masyarakat, bahkan banyak yang
menjadi sampah dan momok dalam kehidupan. Sedemikian patutkah mereka,
makhluk eksacta menyandang gelar keistimewaan yang dengan sedikit
sekali apa yang dapat mereka tawarkan
pada sebuah perubahan,
pencerahan, bahkan malah menggerogoti moral dengan semakin menjauhkan
kehidupan dari keadaan baik. Mereka dengan cacat nalar berpikir untuk
menghitung keuntungan pribadi an sich tanpa memperhitungkan harga diri.

Pada saat mereka berpikir, disitulah terjadi pembatasan-pembatasan kemampuan yang sebenarnya..

Beginikah nasib Ilmu Pengetahuan?*

June 14th, 2008 by riadibambang
Buku John Horgan yang berjudul “the end of science” merupakan
sebuah biografi sekaligus refleksi sains yang bukan hanya mengupas
namun lebih membongkar hakikat dan perkembangan sains itu sendiri.
Dalam petualangannya, Horgan telah berhasil mewawancarai beberapa
ilmuwan yang berpengaruh pada abad ke 20. dia adalah seorang wartawan
ilmu pengetahuan berkebangsaan amerika yang berani dan cerdas, meskipun
banyak resiko yang harus dihadapai.

Sedikit yang bisa saya pahami
dari buku itu adalah (terlepas dari keinginan Horgan sendiri) bahwa
Ilmu pengetahuan telah melampaui segala tanpa batas sehingga tidak ada
kebaruan yang diharapkan, tidak ada jajahan baru yang dieksplorasi,
tidak ada objek sains yang dapat diteliti, dan tidak ada utopia masa
depan yang dapat diraih. beberapa ilmuwan yakin ilmu pengetahuan
mempunyai batas (finite) sampai menuju titik akhir (senjalaka) setelah
semua tujuannya terpenuhi sehingga tidak ada lagi fantasi dan imajinasi
masa depan yang dapat dibayangkan, ilmu pengetahuan telah sempurna yang
dapat mengkonstruksi masyarakat sempurna (perfect society), yang
didalamnya tidak ada lagi yang tidak tersedia, tidak ada masalah yang
tak terpecahkan, tidak ada lagi pertanyaan yang tak terjawab, tak ada
lagi mistery yang tak terungkap. Nanti akan ditemukan teori segala
sesuatu sehingga beberapa ilmuwan berusaha sekuat tenaga untuk mencari
dan menemukan superstring atau theory of everything yang di dalamnya
segala fenomena, masalah dan pertanyaan dari segala disiplin
(konvensional) kini dapat dicari jawabannya oleh sebuah teori tunggal
yang melingkupi (kesatuan dalam keragaman teori), segala hal. Bila
segala hal dapat dijelaskan oleh sebuah teori, maka ini berarti tidak
ada lagi perkembangan teori, tidak mungkin dihasilkan lagi teori baru
di masa depan, dan manusia sampai pada kondisi “matinya teori”. Tapi
masalah yang kemudian timbul adalah ternyata itu hanya utopia yang
tidak mungkin untuk diperoleh, beberapa ilmuwan tersebut telah bermimpi
dan mereka cenderung melakukan hal-hal yang irasional (gila). Wajar
saja ilmuwan merasa bingung dengan apa yang akan mereka lakukan
sekarang, Hampir saat ini tidak ada lagi teori sains yang bisa
ditemukan, dieksplorasi dan diteliti, yang bisa dilakukan sekarang
hanyalah melakukan pereduksian yang deterministic terhadap apa yang
telah dicapai. Mungkin para ilmuwan sekarang telah kehabisan bahan
bakar untuk mencari “apalagi yang harus ditemukan setelah mekanika
kuantum, big-bang, evolusi, dan relativitas umum ditemukan?”.

Asal-usul
alam semesta menurut teori big-bang bermula dari sebuah ledakan yang
terus menerus, bermiliaran tahun yang lalu meninggalkan cahaya sore
dalam bentuk gelombang mikro yang kecil (radiasi dasar kosmis) yang
mengalami pergeseran doppler, selanjutnya penelitian selama beberapa
dekade yang lalu menunjukkan bahwa elemen hidrogen, helium, dan
elemen-elemen cahaya lainnya yang berlimpah dalam milky way (galaksi
bima sakti) dan galaksi lain yang secara tepat sesuai dengan perkiraan
teoritis. Ketiga tingkatan tersebut (pergeseran merah galaksi, dasar
gelombang mikro, dan keberlimpahan elemen) menjadi dasar teori big bang
berpijak.

Asal-usul
kehidupan dengan teori eksotiknya, Stanley Miller melakukan rekayasa
dalam eksperimennya, dengan sebuah tabung yang berisi
metana-amoniak-hidrogen sebagai ganti dari atmosfer, Air sebagai
larutan ditambah kilat dan lilitan pemanas biar larutan mendidih. Dalam
beberapa hari kemudian muncul bahan lengket kemerahan yang kaya asam
amino. Asam amino adalah bahan dasar pembuat protein, dan protein
adalah bahan dasar kehidupan. Dari sini miller yakin bahwa dalam 25
tahun ke depan para ilmuwan akan mengetahui dengan pasti bagaimana
kehidupan bermula, tapi saat ini 25 tahun telah lewat dan kepastian itu
belum terwujud. Hingga miller sendiri akhirnya berpaling untuk kemudian
menyatakan bahwa para ilmuwan akan meneliti menemukan pengkombinasian
zat kimia yang bisa bereproduksi dan mengembangkan kondisi prakehidupan
yang rasional, daripada menjelaskan asal-usul kehidupan. Para Ilmuwan
mengakui bahwa benda dan energi hadir pada awal penciptaan dan setelah
itu baru kehidupan dimulai.

menurut
Biologi evolusioner dengan madzhab darwinian menjelaskan bahwa
organisme bisa menurunkan kepada keturunannya tidak hanya sifat-sifat
bawaan dari ortunya tapi juga sifat-sifat yang diperoleh dari
perjalanan hidupnya, ditambah data-data fosilnya hampir tidak ada yang
secara ilmiah menandingi teori tersebut, diperkuat lagi teori seorang
biarawan bernama gregor mendel dengan partikel hereditas nya yang
sekarang disebut sebagai gen dan dengan transmisi genetis berbasis DNA
menurunkan sifat-sifat pada keturunannya. Biologi molekuler baru-baru
ini mengungkapkan bahwa proses interaksi antara DNA, RNA dan
protein-protein menjadi lebih kompleks daripada perkiraan sebelumnya.

Berbagai
cabang sains (fisika, kimia, biologi, filsafat, dan lain-lain) pada
hakekatnya mempunyai batas-batas yang jelas dan sementara ini telah
kabur, fisika pertikel, setelah ditemukan quark (partikel yang
membentuk proton dan neutron) tidak ada lagi objek penelitian fisika
partikel, akhirnya ilmuwan hanya meneliti tentang estetika partikel
dalam teori fractal (Benoit Mandelbrot). Biologi, setelah ditemukannya
RNA (sebagai molekul berserat tunggal) yang bersama DNA memproduksi
protein, maka penelitian biologi hanya berkutat pada variasinya saja.
Beginilah,
ilmu pengetahuan telah mati. Kematian atau akhir secara ontologism dan
epistemologis mempunyai beberapa makna, mati tidak hanya bermakna tidak
ada lagi (ketiadaan), namun bisa jadi bermakna permulaan atau kelahiran
baru. Dalam berbagai bidang, khususnya the end of science, “kematian”
setidak-tidaknya mempunyai tiga makna;

yang pertama adalah melampaui batas menuju titik ekstrim,
dimana kecenderungan segala sesuatu berkembang ke arah titik ekstrim
yang berakhir menjadi petaka. Selanjutnya setiap system dan konsep
telah kehilangan logikanya atau jatidirinya, melampaui fungsi, tujuan,
prinsip dan hakikatnya.Hal ini biasanya disebut fatalitas (pertumbuhan
sekaligus penghancuran diri). Bisa kita rasakan teori atom atau nuklir
yang berkembang sedemikian pesat telah mengancam perdamaian dunia,
memicu perang yang dapat memporak-porandakan dunia. Rekayasa genetika
ketika tumbuh dan berkembang secara fatal, akan menciptakan terror
virus biologi, penyakit binatang dan tumbuhan, maraknya cloning
manusia, aborsi, atau bahkan jangan-jangan HIV/AIDS, flu burung,
antrax, dll adalah merupakan produk hasil eksperimen laboratorium.
Resiko lain adalah perang nuklir, perang biologi, perang kimia,
kerusakan lapisan ozon, efek rumah kaca, keracunan oleh polusi,
hantaman komet, pencairan es kutub secara ekstrem, Tsunami, dan
penghancuran dunia lainnya. Selain hal di atas, Kematian seni (the end
of art theory), terjadi ketika perkembangan teori seni sampai pada
titik ekstrim sehingga dunia seni kontemporer (postmodern) melepaskan
diri dari teori-teori besar seni yang membangun batas yang jelas antara
seni-nonseni, sehingga batas-batas itu kabur/hilang yang menjadikan
apapun bisa menjadi seni meski sebelumnya bukan seni. Tokoh Prinsip
ekstrem yang paling terkenal adalah paul feyrabend dengan “anything
goes” nya (apapun boleh).

Yang
kedua adalah peleburan dan pencampuradukan, lenyapnya batas, kematian
keotentikan dan kemurnian berbagai entitas (social, ekonomi, sains,
politik, agama, dll) karena telah terjadi proses pencampuran,
peleburan, persilangan (trans) diantaranya. Sehingga tidak ada yang
pure agama, pure politik, pure fisika, dan lain-lain. Konsep imanensi
yang seharusnya selalu berada di dalam (imanen) sesuatu di luar dirinya
(biasanya transenden) dengan membongkar oposisi biner untuk membebaskan
manusia dari transcendental murni, maka imanensi akan dilihat sebagai
“imanensi untuk dirinya sendiri” bukan terhadap transenden, dengan
demikian transenden yang biasanya lebih superior akan bercampur dengan
imanen itu sendiri dan batas diantaranya pun hilang. Perselingkuhan
lintas disiplinpun terjadi pada fisika, yang selama ini mempelajari
prinsip-prinsip zat kini mempelajari tentang keindahan dan estetika zat
Sehingga tidak ada bedanya antara fisika dan sastra. Filsafat, yang
sebelumnya merupakan penjelejahan dalam upaya menemukan jawaban tentang
‘kebenaran’ kini justru menggali keindahan kata-kata sehingga tidak ada
bedanya antara filsafat dan puisi sebagaimana yang dilakukan derrida.
Yang
ketiga adalah kondisi tidak ada lagi objek ilmu pengetahuan itu
sendiri, terbatasnya objek ini diperlihatkan semakin menurunnya
penemuan (discovery). Di tahun-tahun sekarang telah ditemukan setengah
dari penemuan ilmiah, dan diperkirakan di tahun 2200 penemuan akan
mencapai 90% dan setelah itu tidak akan ada lagi penemuan ilmiah.
Fisika partikel telah berhasil menemukan quark (partikel terkecil) yang
membentuk proton dan neutron. Biologi molekuler telah berhasil
menemukan RNA dan DNA yang memproduksi protein sebagai bahan dasar
kehidupan. Fisika kuantum telah sampai pada teori mekanika kuantum dan
relativitas Einstein. Matematika telah sampai pada bilangan imajiner,
geometry non Euclid, yang terakhir teori Mandelbrot tentang fractal.
Kosmologi telah kehabisan peralatan untuk membuktikan teori big-bang.
Neurosains telah kehabisan biaya dan pemikir untuk lebih lanjut
menemukan hubungan kesadaran dengan otak fisik.Setelah semua itu
akankah ilmu pengetahuan benar-benar telah berakhir? Atau mungkin
berputar untuk kembali ke masa lalu, dunia mistik, khayal,
bayang-bayang dan imajinasi. Mengingat ilmuwan masa kini sering
membayangkan hal-hal yang irasional, kehidupan di luar bumi, penciptaan
laboratorium kehidupan baru, fiksi ilmiah yang membayangkan makhluk
luar angkasa datang ke bumi, robot dengan kecerdasan melebihi manusia,
computer dengan insting dan kemampuan memory yang hebat, manusia super
yang dapat hidup selamanya, dan teori superstring semuanya adalah
imajinasi masa kini dan akan datang, yang artinya paradigma para
ilmuwan sudah bergeser dari semestinya. Budaya prosedur ilmiah
menjadikan ilmu pengetahuan menjadi birokrasi intelektual, sosial dan
politik yang besar, yang sukar ditandingi. Kalaupun memang prosedur
ilmiah sudah tidak relevan lagi sebagai metode sains, mungkin harus ada
metode baru yang tentunya berimplikasi pada definisi atau pengertian
ilmu pengetahuan, biar jelas sesuatu itu dapat dikatakan sains,
rasional, dan ilmiah atau mungkin dikatakan yang lain. Lantas beberapa
pertanyaan yang belum terjawab dengan pasti seperti bagaimana alam
semesta bermula, asal-usul kehidupan, asal-usul seks, asal-usul
kesadaran, superstring, adanya kehidupan diluar bumi (alien),
pengkombinasian zat kimia yang bisa bereproduksi dan mengembangkan
kondisi prakehidupan yang rasional, sesuatu yang tidak hancur ketika
bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya, mistery metafisika, pembuatan
cadangan ozon, keluar dari dimensi ruang dan waktu, Chaitin mengatakan
jika kita dapat menjelaskan mengapa kita menua mungkin kita bisa
mengetahui bagaimana menghentikannya.semua misteri tersebut sulit untuk
terungkap, apalagi hanya dengan sebuah prosedur atau metode ilmiah.
Ilmu pengetahuan, kata stent menghadapi batas-batas fisik, social dan
kognitif. Ilmu pengetahuan tidak akan mampu menembus wilayah pengalaman
subjektif, tingkah laku manusia tidak bisa didefinisikan oleh model
ilmiah atau matematis apapun, seperti kapan kita ngopi dan tempatnya
dimana adalah hal subjektif manusia. Einstein mengakui bahwa fisika
sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan nilai,
makna, dan fenomena subjektif lainnya. Keterbatasan ilmu pengetahuan
atas objeknya inilah yang membuat ilmuwan kehabisan tenaga untuk
menemukan hal ilmiah baru. Saking jengkelnya beberapa ilmuwan
menyatakan bahwa sebenarnya sekarang ini banyak ilmuwan yang lebih
jenius dari newton dan einstein, namun karena mereka tidak sezaman maka
banyak yang kebingungan dengan pencarian temuan sains yang baru.
Andaikan newton dan einstein hidup dalam zaman sekarang mungkin dia
juga akan merasakan hal yang sama dengan ilmuwan-ilmuwan apatis
apologetik lainnya.

Jadi
Ilmu pengetahuan tidak mati dalam arti ketiadaan, tapi hidup dengan
cara ironis atau dengan cara fatalistic. Ilmu pengetahuan akan
dicampuradukkan sehingga kehilangan jatidirinya, seperti yang dilakukan
nietze, heidegger, feyrabend, dan deluze. Sains tidak lagi dapat
dibedakan dengan sastra, seni, puisi, atau agama. Ilmu pengetahuan
tidak dilihat dalam objektivitas, epistem dan validitas kebenarannya,
tapi pesona, retorika, dan keindahannya.

Ketika manusia sudah sampai
pada batasnya, Hans moravec, Dyson, dan Marvin Minsky yakin bahwa masa
depan berada di tangan mesin-mesin, teknologi komputer telah berkembang
sedemikian pesatnya dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda
kemandegannya. Komputer dengan kecerdasan artifisialnya, memandang
bahwa kesadaran adalah memory jangka pendek, memory komputer jauh lebih
kuat menahan tumpukan masalah (pemrosesan) daripada memori manusia.
Dengan berkembangnya ilmu mesin maka pekerjaan manusia sedikit demi
sedikit akan digantikan olehnya, perusahaan-perusahaan akan lebih
memilih robot untuk bekerja daripada manusia yang sering mengacaukan.
Sekarang manusia sudah cenderung menjadi mesin dan sebaliknya mesin
akan menggantikan manusia. Komputer mungkin atau pasti akan mempercepat
akhir dari ilmu pengetahuan empiris. Ilmuwan akhir-akhir ini kehabisan
bahan empiris, mereka mempunyai kecenderungan untuk menciptakan fiksi
ilmiah (superstring, kesadaran, dll) maka sains akan mandeg dan
kecerdasan ada di tangan mesin. Benarkah masa depan ilmu pengetahuan
akan dilanjutkan oleh mesin?. Dan akankah ilmu pengetahuan mesin
berbeda secara signifikan dengan ilmu pengetahuan manusia? Makanya
lihat film matrix dulu…

Namun
apa yang terjadi dengan riwayat kecerdasan artifisial yang telah
dikalahkan manusia dalam pertandingan catur antara Gary Kasparov (juara
catur dunia) melawan “Deep Blue” komputer yang berkekuatan hebat,
dibuat oleh progammer catur terbaik di dunia dengan 32 prosesor paralel
yang mampu menguji 200 juta posisi perdetik. Semula Deep Blue menang
dalam pertandingan pertama dan berakhir dengan kemenangan Gary Kasparov
4-2. Jika Monster silikon ini tidak bisa mengalahkan seorang manusia
dalam permainan catur, lalu bagaimana dengan harapan bahwa komputer
akan bisa meniru bakat manusia yang lebih hebat, seperti mengenali
kekasih, melakukan demonstrasi, mengakali mahasiswa, dan membuat virus.
Hehe… inilah mimpi buruk Marvin Minsky dan kawan-kawannya.

Terakhir,
Horgan dengan ketidakpastian tujuannya yakin bahwa buku the end of
science nya bukan sekedar meniru buku the end of … yang lain. Dan
apakah akhir sains adalah anti-sains? Merupakan kekhawatiran sejumlah
ilmuwan atas istilah yang lebih tajam yang mereka lukiskan sebagai
kebangkitan irasionalitas dan permusuhan yang rapi terhadap ilmu
pengetahuan. Bisa jadi ini dijadikan doktrin para fundamentalism agama,
filosof postmodern, dan ilmuwan ironis untuk menyebarkan ajaran
sesatnya, yaitu paradigma anti-ilmu pengetahuan. Lalu bagaimana dengan
ilmu pengetahuan terapan? Implikasinya adalah dipotongnya dana-dana
penelitian seperti penelitian tentang fusi nuklir untuk melahirkan
sumber energi yang bersih, ekonomis, dan berlimpah. Kaum realis
menyatakan bahwa energi fusi merupakan mimpi yang mungkin tidak akan
pernah terwujud; hambatan teknis, ekonomis, dan politis terlalu besar
untuk diatasi. Kemudian bagaimana dengan pikiran manusia? Bagaimana
selanjutnya superstring? Bagaimana Permainan teori chaos dan
kompleksitas? Adakah kehidupan di planet Mars? Silahkan cari jawabannya
dan ilmu pengetahuan tidak akan berada diujung kematiannya…

“Jika
Tuhan memang ada, mengapa Ia menciptakan dunia dengan begitu banyak
penderitaan? Jika Tuhan tidak menciptakan penderitaan, maka kebahagiaan
tidak akan pernah ada.”