AKU
Dalam hidup ini
ketika kucoba renungkan apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi. Banyak hal
yang sebenarnya membuatku bingung dan ragu, kadang aku butuh dan dibutuhkan,
mencari dan dicari, menolong dan ditolong, yang kesemuanya itu amatlah tidak
berharga dibandingkan dengan kondisiku sekarang ini. Setelah masa depanku
hancur ditambah beban berat dipundakku, hutang-hutang yang melilitku, dan
banyak lagi keresahan yang kurasakan semuanya itu hanyalah sekedar untuk
mengutuk diriku sendiri saja dan bukan untuk menghibur apalagi menolong dan
memberikan harapan bagiku. Sangatlah naif ketika sekarang diriku mengharap
ketenangan sementara orang sekeliling menatapku dengan tatapan tuntutan, bicara
denganku dengan suara cemoohan, hingga aku berani taruhan suatu saat dunia akan
terbalik sehingga keberuntungan ada di depan mataku. Akupun sadar keluargaku
akan sangat kecewa ketika melihat kenyataan yang menimpaku, anak yang
dibanggakan, adik yang berpotensi, dan saudara yang paling diharapkan, ternyata
tak lebih dari sekedar benalu yang menjadi beban orang yang selama ini
memperhatikanku. Tak patutlah kiranya kutulis untaian kata yang sangat tidak
enak dibaca apalagi direnungkan yang hanya mengindikasikan sebuah penyesalan
yang mendalam tentang suatu abstraksi dilema kehidupanku yang an sich.
Tak ada lagi suatu harapan lain kecuali “kebebasan” yang
selama ini tak pernah kumiliki, yaa…. Kebebasan yang aku sudah tidak memikirkan
orang lain, tidak mau tahu kepentingan, dan tidak kuanggap diriku hanyalah jadi
korban peradaban zaman ataupun seonggok paham idealisme serta kebebasan yang
aku sendiri kuasa tuk pertahankan hidupku atas kesepakatan naluri dan nuraniku
sendiri. Tak ada ikatan apapun dengan dunia selain aku, tak ada seorangpun.
Hanya apa yang aku butuhkan dan apa yang aku inginkan yang akan kujalani dan
kuperjuangkan, kubiarkan suara yang mencoba membuatku tertarik kesana,
kubiarkan alam mempertemukanku sendiri dengan Tuhan dan bukan orang lain.
Kata-kata ini sebenarnya tak patut dimaterialkan oleh orang yang mengatasnamakan
pejuang, tapi hanya teruntuk orang yang berani dengan lantang membahasakan
kejujuran. Seperti halnya kaum yang diklaim egois, aku akan berani membuktikan
bahwa kaum egoispun sebenarnya punya pertimbangan naluri yang sebenarnya juga
perlu diklasifikasikan dan didefinisikan menjadi egois murni amoral yang selalu
membawa-bawa kepentingan, dan egois rasionalis yang tidak merugikan orang lain,
meski kedua-duanya tidak baik untuk dikembangkan.
Kadangkala kedengkian yang mewarnai hidup ini diubah dalam
bahasa cinta, kebohongan dibalut dengan kejujuran, nafsu yang garang dilapisi
moral, dan kekejian sudah layak dikatakan akhlak. Akupun tidak lagi merasa
hidup ini seindah masa kanakkanak dimana ibu guru dengan kasih sayang selalu
memperhatikan perkembangan dan pendidikanku, tapi sekarang orang yang kuanggap
sebagai guru mendidikku hanya untuk lembaran-lembaran emas, kuliah dijadikan
alat transaksi, belajar mengajar bukan lagi untuk pintar tapi hanya demi
kepingan-kepingan harta, tak sanggup kiranya kubayangkan kedua orangtuaku
banting tulang mandi keringat hanya untuk mencukupi kebutuhanku, tiap malam
bersimbah air mata demi mendoakanku. Persetan dengan orang yang selama ini
membual didepanku, meski dia dianggap pahlawan tanpa tanda jasa ataupun penuh pengorbanan.
Ratapan dan tangisanku seolah tiada
artinya lagi, hatiku kering kerontang merasakan panasnya sengatan emosi
kealpaan.
Apapun telah
kuanggap fana, termasuk identitasku tanpa terkecuali. Kebenaran menjadi tidak
lagi menarik bahkan malah semakin menakutiku, ditambah belenggu anti kemapanan
yang dimulai pasca wacana tentang kritisisme dan teori kebenaran, juga terkait
dengan konsepsi logis august comte yang menyatakan ??Sebagai anak kita menjadi
seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai
mansusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam. Sedikit banyak diriku telah
terpengaruh diskursus epistemologi kiri, tapi memang sejak awal obsesiku selalu
ingin mencari sesuatu yang beda meski lingkungan tidak pernah mendukungku.
Bukan hal yang salah ketika dihadapkan pada persepsi, pada kenyataan yang tidak
semua orang bisa melihatnya, ilusi adalah kenyataan, intuisi adalah sumber
inspirasi dan awal mula sebuah ide, akan tetapi apakah “harus” ketika hari ini
kucoba terlepas dari apapun yang aku sendiri takut untuk berpikir kesana?,
rasanya bukan menjadi ketakutan kalupun itu hanya sekedar bahasa atau logika.
Tapi bukan hal itu yang sebenarnya membawaku pada “kegilaan”, tapi malah aku
menganggap bahwa sesuatu selain aku hanya ada jika ada dibenakku. Bukan hanya
manusia, hewan, perasaan, alam, atau bahkan Tuhan sering menjadi klaim bahwa
aku benar-benar ada dengan segenap eksistensiku, tapi aku ragu bahwa semuanya
ada bahkan termasuk logika berpikirku, dalam ketiadaan ini hanya ada bayangbayang
yang ada tanpa cahaya dan kegelapan, substansi dari esensi yang maya. Tidak
empiris seperti yang dikatakan anak kecil bahwa cabe itu pedas. Apakah karena
eksistensiku ada dalam bayang-bayang atau hanya bayangan, atau tidak tampak
dalam kegelapan dan terang, bukan itu, tapi aku setidak-tidaknya mempunyai alat
untuk membayangkan bayangan. Apakah kenyataannya dalam hidup ini tidak ada
hitam putih, baik buruk, hidup mati, kaya miskin, laki-laki perempuan, dan
hukum kausalitas lain ataupun diantaranya. Juga apakah ketiadaan ini yang
disebut keadaan, tak ada yang bisa diistilahkan, dibahasakan, diverbalkan, atau
dimaterialkan bagaimanapun, karena hakekatnya ada pada substansi ketiadaan,
esensi bayangan, yang tidak bisa dianggap ada pada dunia bayangan, tapi memang
ketiadaaan itulah yang menjadi di-adakan bukan realitas yang ada tapi hanya
ilusi dari kehampaan.
Sebagai sesuatu
yang dianggap manusia belum sempat kiranya untuk memaknai manusia seutuhnya
akibat keadaan yang memang tidak pernah mengajak pada pemaknaan yang bersifat
artifisial, manusia dengan segala yang bergejolak dalam pikirannya dan seluruh
perilaku tingkah laku yang berjuta ragamnya seolah hanya dibatasi ruang dan
waktu semata bukan karena dianggap zat dan geraknya saja namun seluruh
substansi terkonstruk ke dalam kerangka bingkai kedangkalan intuisi. Sebuah
realitas yang terperosok kedalam lubang kecil yang tidak begitu dalam berpikir
dan merenung berusaha mencari pijakan untuk keluar melihat lubang tadi, melihat
matahari sudah setinggi berapa derajat, menghirup oksigen yang sudah terasa
pengap, dan melangkah hati-hati berjalan menyusuri jalan yang tidak ada
sedikitpun arti dari bulatnya bumi kecuali hanya padang rumput yang datar
beserta sedikit angin panas menerpa rantingranting pohon yang sudah tidak ada
daunnya. Sekedar sandiwara atau kisah yang sempat ada dalam ringkasan kehidupan
tidak lebih hanyalah fiksi dari fatamorgana dalam panasnya matahari menyengat
kulit memaksa keringat keluar, menipu mata hati untuk lebih cepat mengambil
konklusi bahwa hidup dalam kehidupan hanya dibatasi ruang dan waktu serta
terbebas dari pengetahuan tentang hidup sesudah mati, balasan sorga neraka,
sedih dan gembira, realitas yang lain diluar panca indera, atau melihat tanpa
kacamata hegemonik sebuah diri atau komunal.
Definisi dari
harga diri, kehormatan, atau hal-hal yang metafisis lainnya bukan sekedar
tekstual atau kontekstual, tapi lebih dari sekedar itu, anggapan, asumsi,
premis, proposisi, dan semua yang terkait dengan bahasa, bahasa verbal, non
verbal, fiksi, gerak, bahkan bahasa atau lambang yang artifisial pun telah
berusaha membatasi atau bahkan menghilangkan makna sesungguhnya dan sebenarnya
dan alangkah tragisnya banyak yang terjerumus kedalam lorong kebutaan yang
semakin dalam tanpa batas, sehingga sulit keluar dari jebakan mekanisme dan
persepsi. Berbagai metode, instrumen, rumus dan berjuta cara telah menjadi
tabir realitas sesungguhnya, tabir yang berlapis-lapis, cermin yang memantulkan
bayangan, kaca yang transparan, kaca hitam putih, warna-warni pelangi yang
semuanya dianggap sepenuhnya memproyeksikan kenyataan padahal dibalik tabir itu
bukan hanya misteri yang seolah belum terkuak, tapi di atas misteri itu
terdapat kenyataan yang sebenarnya ada dalam diri manusia, ada dalam bayangan,
ber-ada dimana-mana, sampai adanya dianggap sebagai ketiadaan karena bebas dari
ruang dan waktu, terbebas dari ukuran jauh dan dekat, terlepas dari hidup dan
mati, tak berwarna, tak berasa, tampak dalam ketiadaan, yang tak berbentuk dan
tak terlukis dalam angan, ilusi bayangan, tapi kenyataan itu ada dalam
keadaannya, tampak pada mata telanjang, terasa pada kulit, hidup tanpa
kehidupan, serta sama sekali tidak berada di dunia antara.
Semua yang
terkait dengan hal yang transendental tentunya sangat sulit untuk dipahami walaupun
hanya sekedar abstraksi dalam pisau nalar. Demikian juga, ketergantungan pada
perasaan yang dipaksakan tidak lebih sekedar tipu muslihat yang meracuni,
menikam, dan mengkoyak-koyak akal budi, terilhaminya intuisi walau hanya
sekilas sesekali bukanlah insidental belaka, air yang seolah mendidih dalam 100
derajat tidak dapat diukur hanya dengan perkiraan an sich, keterbatasan indera,
akal, ataupun alat yang berdiri sendiri tidak lebih dari omong kosong belaka.
Selayaknyalah aku berpaling pada hal-hal yang menguasai paradigma dengan segala
bentuk konsekuensi dari semua ini, bukanlah hal yang penting saat ini bagiku
kecuali mencoba merenungkan segala keterlibatanku dan ketertarikanku pada
afektivitas rasionalisme kemudian merekontruksi ulang atau bahkan
mendekontruksi semua yang berperilaku sebagai kuasa atas diriku. Pada
hakekatnya aku menyukai segala yang ada dalam kehidupanku kecuali cinta, kenapa
aku harus membenci cinta? Sebuah pertanyaan yang sampai hari ini belum
terjawab, belenggu romantisme telah sekian lama ku bongkar dan kuhancurkan,
cinta laksana pembunuh berdarah dingin, penipu yang ahli menghipnotis, dengan
hayalannya mampu meremukkan imajinasi. Jauhnya diriku dari cinta, membuat
kebahagiaan tersendiri bagi tatanan indera perasaku, lebih dari empat tahun aku
terjebak dalam kubangan hitam itu, kemampuan logika sederhanaku mampu
menyimpulkan bahwa manusia yang bercinta sangatlah terkutuk apalagi diungkapkan
sebagai sebuah nalar diskursif.
Kasih sayang,
rindu, kebersamaan, saling menghargai semuanya reduksi dari cinta yang mustahil
untuk direalisasikan. Satu hal yang baik menurutku adalah kesungguhan,
berangkat dari sebuah ide dan indera semua orang bisa merelasikan kehidupan
yang bermakna dan berarti bagi perjalanan hidup menyusuri ruang dan waktu, hal
ini tanpa dimulai dengan kesungguhan, maka akan menjadi fenomena yang besar
dalam dunia empiris sekarang ini. Terkadang tanpa kusadari mimpi buruk yang
sering kualami menjadi masalah besar dalam nalarku, entah datang darimana yang
jelas aku tak kuasa untuk menolak kehadirannya. Nalar yang telah terkontaminasi
dengan mimpi buruk atau hal-hal yang menyebabkan kegelisahan, menjadi sebuah
cacat nalar yang berimplikasi pada cacat perilaku dan tindakan serta sangat
berpengaruh dalam memberikan keputusan. Cacat nalar yang terdefinisi sebagai
kebodohan tertinggi, sakit yang paling parah, sehingga siapapun orang yang
berangkat dari ide-ide cacat nalar maka dia akan jauh dari pengetahuan, jauh
dari ilmu dan sangat dekat dengan kesesatan, tiada teori yang menjelaskan nalar
secara diskursif dan barang siapa yang mencoba mendefinisikan, maka dialah sang
pembohong besar yang dengan ambisinya mencoba membunuh kemandirian. Tiada
untungnya bagi siapapun manusia yang meneliti keabstrakan karena pada dasarnya
itu hanyalah sebatas perkiraan, sementara masih banyak hal yang harus menjadi
ataupun ada sebagai sebuah kevalidan (teorema) bahkan kebenaran (postulat dan
aksioma), kebenaran yang sesungguhnya tiada butuh bukti rasional, dia dapat
membuktikan dirinya sendiri dengan common sense subjeknya, sesungguhnya
perasaan dan intuisilah yang menjebak diri kita sebagai manusia ceroboh. Jika
ada orang gila yang telanjang dijalanan maka dia lebih baik daripada manusia
cap waras yang berkomentar tentang dia. Perasaan bukan alat yang baik untuk
orang yang mengharapkan pengetahuan, siapapun yang telah dengan rela melepaskan
segala rasa dalam segala aktifitas pikirannya niscaya dia benar-benar objektif,
tapi tak ada satupun dari manusia yang sanggup untuk melakukan itu karena pada dasarnya
semua orang takut untuk berani berpikir dengan hatinya. Aku yang berusaha
sampai hari ini untuk membahasakan isyarat hati dengan suatu pikiran kritis
yang bukan hanya sulit dipahami tapi seringkali menghilang dan muncul namun
hanya sekejab.
Orang yang diam
pasti dapat mendengarkan suara hatinya sedang bicara, dalam bergumam, berpikir,
dan mendengar. Aku sangat sepakat jika memang manusia saat ini hanyalah robot
dengan roh yang berkembang dalam dimensi yang berbeda, dan benar-benar
merupakan penampakan fisik yang sering menipu, bukan lebih pada tingkat
kejeniusannya dalam mengungkap kebenaran suara hati. Aku tahu apa yang tidak
semua orang tahu tentang aku, aku mengumpat, memaki, meludahi, dan membunuh
siapun orang yang kukehendaki dengan tak ada seorangpun yang tahu. Manusia
merupakan satu kesatuan utuh yang tereduksi menjadi roh dan jasad. Aku sebagai
seorang penganut filasafat diri eksentrik dengan segenap skeptisis, realistis,
idealis, menganggap apapun yang terkait dengan "hubungan" adalah
keniscayaan obyektif dari suatu gerakan. Tak ada sesuatupun yang diam semuanya
bergerak, seperti gunung bersama bumi bergerak mengelilingi matahari, proton
dan elektron dalam sebuah benda. Hal yang bergerak seperti itulah yang diyakini
manusia sebagai diam, diam dalam dimensi ruang dan waktu, sedalam dan seluas
pandangan orang-orang kritis yang memahaminya. Bergerak adalah hakekat, diam
adalah nisbi, gunung itu kecil dalam tatasurya tapi banyak yang bilang besar.
sebenarnya perasaanlah yang menisbikan hakekat realitas, imajinasi dan
intuisilah yang menggeser kejelasan makna menjadi abstrak dan dengan rasa
bahasa menjadi alat yang bodoh dan tidak berguna. Bahasa sebagai pecundang yang
luar biasa biadabnya, memperkosa realitas sebenarnya dengan pembatasan makna yang
secara kompulsif menggunakan kuasanya, bahasa adalah monster hegemonik yang
menyeramkan, ahli bahasa adalah penipu yang seolah berjasa namun memisahkan
makna dengan realita, menyembunyikan bahan dari produknya, dan menisacayakan
sesuatu yang tidak berharga. Bahasa hanyalah untuk anak kecil yang belajar
membaca dan menulis, tidak layak untuk mendefinisikan fakta. Orang yang kaya
bahasa akan jauh dari makna, sedangkan orang dewasa akan sedikit menghargai
makna daripada bahasa.
Terlanjur bahasa
menjadi bagian dari makna, dia akan hiperbolik dan semena-mena, Tak ada
pembelaan atau apologia terburuk kecuali ada pada ahli bahasa. Akulah manusia
yang paling muak dengan kesombongan para bahasawan, dalam hal ini Pemahamanku
tak akan bisa dipahami jika berada dalam dimensi pengetahuan berbeda, kecuali
dengan karakteristik kritis yang tidak sekedar falsifikatif tapi juga negasi
afirmatif. Seperti halnya kaum intelektual amatiran yang hanya ahli dalam
membongkar, mendekontruksi tanpa disertai teori besar yang mapan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Hal yang semacam itu juga dapat membodohkan bahkan
menyesatkan, bukankah sangat membahayakan sisi kemanusiaan manusia. sangat
disayangkan bahwa mereka dengan karakter elitisnya tidak mampu mengontrol
perkembangan teknologi mekanistik deterministik kapitalistik yang telah berubah
menjadi hantu yang bergentayangan di muka bumi ini.
* Ratapan hati,
dulu pas masih sumpek polllll